Monday, January 14, 2013
Monday, December 24, 2012
Konsep Belajar Kognitivistik
Teori belajar kognitif berasal dari
pandangan Kurt Lewin (1890-1947), seorang Jerman yang kemudian beremigrasi ke
Amerika Serikat. Intisari dari teori belajar konstruktivisme adalah bahwa
belajar merupakan proses penemuan (discovery) dan transformasi informasi
kompleks yang berlangsung pada diri seseorang. Individu yang sedang belajar
dipandang sebagai orang yang secara konstan memberikan informasi baru untuk
dikonfirmasikan dengan prinsip yang telah dimiliki, kemudian merevisi prinsip
tersebut apabila sudah tidak sesuai dengan informasi yang baru diperoleh. Agar
siswa mampu melakukan kegiatan belajar, maka ia harus melibatkan diri secara
aktif.
Teori kognitivistik ini memiliki
perspektif bahwa para peserta didik memproses informasi dan pelajaran melalui
upayanya mengorganisir, menyimpan, dan kemudian menemukan hubungan antara
pengetahuan yang baru dengan pengetahuan yang telah ada. Teori ini menekankan
pada bagaimana informasi diproses.
A. Karakteristik Pembelajaran Kognitivistik
a)
Belajar adalah proses mental bukan
behavioral
b)
Siswa aktif sebagai penyadur
c)
Siswa belajar secara individu dengan
pola deduktif dan induktif
d)
Instrinsik motivation, sehingga tidak
perlu stimulus
e)
Siswa sebagai pelaku untuk menuntun
penemuan
f)
Guru memfasilitasi terjadinya proses
insight.
B. Beberapa tokoh dalam aliran
kognitivistik
a)
Teori
Gestalt dari Wertheimer dkk
Menekankan
pada kebermaknaan dan pengertian sehingga tidak menimbulkan ambiguitas dalam
proses pembelajaran.
b)
Teori
Schemata Piaget
Teori ini
mengatakan bahwa pengalaman kependidikan harus dibangun di sekitar struktur
kognitif siswa. Struktur kognitif ini bisa dilihat dari usia serta budaya yang
dimilik oleh siswa.
c) Teori Belajar Sosial Bandura
Bandura
mempercayai bahwa model akan mempunyai pengaruh yang
paling efektif apabila mereka dianggap atau dilihat sebagai orang yang
mempunyai kehormatan, kemampuan, status tinggi, dan juga kekuatan,
sehingga dalam banyak hal seorang guru bisa menjadi model yang paling berpengaruh.
paling efektif apabila mereka dianggap atau dilihat sebagai orang yang
mempunyai kehormatan, kemampuan, status tinggi, dan juga kekuatan,
sehingga dalam banyak hal seorang guru bisa menjadi model yang paling berpengaruh.
d) Pengolahan Informasi Norman
Norman
melihat bahwa materi baru akan dipelajari dengan menghubungkannya dengan
sesuatu yang sudah diketahuinya, yang dalam teorinya di sebut learning by
analogy. Pengajaran yang efektif memerlukan guru yang mengetahui struktur
kognitif siswa.
Implikasi Konsep Belajar Kognitivistik terhadap Evaluasi Pendidikan
Implikasi teori kognitivistik dalam
kegiatan pembelajaran lebih memusatkan perhatian kepada cara berpikir atau
proses mental anak, tidak sekedar kepada hasilnya. Selain itu, peran siswa
sangat diharapkan untuk berinisiatif dan terlibat secara aktif dalam kegiatan
belajar. Teori ini juga memaklumi akan adanya perbedaan individual dalam hal
kemajuan per- kembangan. Oleh karena itu guru harus melakukan upaya untuk
mengatur aktivitas di dalam kelas yang terdiri dari individu – individu ke
dalam bentuk kelompok – kelompok kecil siswa daripada aktivitas dalam bentuk
klasikal.
Teori ini juga mengutamakan peran
siswa untuk saling berinteraksi. Menurut Piaget, pertukaran gagasan – gagasan
tidak dapat dihindari untuk perkembangan penalaran. Walaupun penalaran tidak
dapat diajarkan secara langsung, perkembangannya dapat disimulasi.
Implikasi dalam konsep evaluasi
bahwa evaluasi dilakukan selama proses belajar bukan hanya semata dinilai dari
hasil belajar. Jadi, teori ini menitikberatkan pada proses daripada hasil yang
dicapai oleh siswa.
Bagi para penganut aliran
kognitifistik, pembelajaran dipandang sebagai upaya memberikan bantuan kepada
siswa untuk memperoleh informasi atau pengetahuan baru melalui proses discovery
dan internalisasi. Agar discovery dan internalisasi dapat berlangsung secara
benar maka perlu diperhatikan beberapa prinsip pembelajaran yang perlu sebagai
berikut:
- Setiap siswa perlu dimotivasi oleh guru agar merasa bahwa belajar merupakan suatu kebutuhan, dan bukan sebaliknya sebagai beban
- Pembelajaran hendaknya dimulai dari hal-hal yang konkrit ke hal-hal yang abstrak.
- Setiap usaha mengkonseptualisasikan matari pembelajaran hendaknya diatur sedemikian rupa sehingga memudahkan siswa belajar.
- Pembelajaran hendaknya dirancang sesuai dengan pengalaman belajar siswa dengan memperhatikan tahap-tahap perkembangannya.
- Materi pelajaran hendaknya dirancang dengan memperhatikan sequencing penyajian secara logis.
Tuesday, October 16, 2012
Penelitian Pendidikan
-->
A.
LATAR
BELAKANG MASALAH
Proses membimbing individu ke dalam
dunia sosial dilakukan dengan mendidik individu tentang kebudayaan yang harus
dimiliki dan diikutinya agar individu tersebut menjadi anggota yang baik dalam
masyarakat dan dalam berbagai kelompok khusus. Segala sesuatu yang dipelajari
individu harus dipelajari dari anggota masyarakat lainnya termasuk dalam
keluarga beserta pola asuh yang diberikan kepadanya. Dengan tak sadar ia belajar
dengan mendapatkan informasi secara insidental dalam pelbagai situasi sambil
mangamati kebiasaan-kebiasaan dalam lingkungannya. Seluruh proses sosialisasi
berlangsung dalam interaksi individu dengan lingkungannya.
Pola asuh sangat berperan penting dalam
membantu individu untuk bersosialisasi, namun jika suatu keluarga memberikan
pola asuh yang salah maka mereka akan bermasalah pula dalam bersosialisasi.
Pola asuh yang salah itu dengan memberikan kasih sayang dari keluarganya yang
terlalu memanja dan melindungi. Oleh karenanya jika suatu individu diberikan
pola asuh yang salah dengan keluarganya, maka ia akan sulit melakukan proses
sosialisasi dengan lingkungan di luar keluarganya.
B.
IDENTIFIKASI
MASALAH
Berdasarkan
latar belakang penelitian di atas, maka identifikasi masalah penelitian ini
dapat diidentifikasikan, yaitu:
Ø Kesulitan
bersosialisasi
Ø Tidak
percaya diri
Ø Menjadi
pribadi yang penakut
Ø Ingin
menang sendiri
C.
BATASAN
MASALAH
Secara konseptual penelitian ini
akan menelaah “Pengaruh Pola Asuh yang Salah terhadap Proses Sosialisasi Anak”.
Proses sosialisasi tidak selalu berjalan lancar karena adanya sejumlah
kesulitan, salah satunya yang diakibatkan dari pola asuh yang salah.
D.
RUMUSAN
MASALAH
·
Apa saja jenis-jenis pola asuh itu?
·
Bagaimana pola asuh yang salah itu?
·
Bagaimana dampak pola asuh yang salah
terhadap sosialisasi anak?
E.
TUJUAN
·
Mengetahui jenis-jenis pola asuh
·
Mengetahui pola asuh yang salah
·
Mengetahui dampak dari pola asuh yang
salah terhadap sosialisasi anak
Subscribe to:
Posts (Atom)


